“ORKESTRA”



“ORKESTRA”
Ketika  saya melihat dan menyimak hasil dari proses kreatif ketiga orang sahabat saya yang tergabung dalam “trio” pelukis bernama “Telu(u)njuk”, yakni I Kadek Darmanegara, I Wayan Sedanayasa, dan I Wayan Aries Adipramana. Saya menganalogikan diri saya seperti sedang  mendengarkan harmoni dari sebuah   garapan musik  orkestra yang disusun oleh perbedaan bunyi  dari instrument yang berbeda pula. Perbedaan instrumen yang saya magsud adalah adanya perbedaan tampilan karya, baik secara tekstual maupun kontekstual.  Sehingga saya meminjam  kata “orkestra” dari dunia musik untuk  membingkai  pameran mereka yang menampilkan karya yang tampak sangat berbeda baik dari sisi teks(visualisasi) maupun konteks(tema).
Kadek Darmanegara tampak intens melakukan ekletisme pada karya-karyanya , ia secara bebas mengeksplorasi efek-efek dalam seni lukis abstrak semisal cipratan, lelehan, sapuan ataupun torehan-torehan palet yang liar lalu “mengawinkannya” dengan drawing dekoratif ornamentik  yang tampak tertib, terkontrol ,dan bernafas Bali tersebut secara nyaman. Disinilah tampak  keberanian Darma dalam memainkan kontras visual yang tajam. Ada sebuah permainan emosi yang tertangkap dari karya-karyanya, Ia tampak asik bermain main dengan emosinya,  ia tampak begitu mengumbar  keliaran emosi saat membuat cipratan ataupun lelehan, setelah dirasa cukup, Ia kemudian merespon hasil keliaran emosinya itu dengan  secara ketat melakukan  pengendalian emosi saat membuat jelimetan drawing garis gemaris ornamen pada masing-masing permukaan citra obyek yang dilukisnya. Klimaks segera bertemu dengan antiklimaksnya. Puncak seni lukis modern berupa efek-efek  abstraksi, oleh Darma dipertemukan dengan puncak dari seni lukis tradisi berupa jejak-jejak  ornamentik. Dengan cara itu Darma berbicara tentang etnisitas yang kini mulai ramai diangkat ke permukaan karena diyakini  sebagai alternatif atas keseragaman wajah seni rupa kontemporer Indonesia yang mulai jenuh dengan  bahasa visual impor yang di copy paste begitu saja kulit visualnya, tanpa  adanya pemahaman yang utuh tentang kontemporerisme ataupun tentang postmodernisme itu sendiri. Secara  tematis (kontekstual) karya Darma berbicara tentang banyak hal mulai dari spiritualitas,interaksi budaya local dan global sampai persoalan alam.
Sementara Wayan Aries Adipramana, menghadirkan citra obyek yang dipinjam dari budaya pop, yakni mainan anak-anak seperti replika mobil bulldozer, sampai replika tokoh tokoh dalam super hero semisal jocker, cat woman, wonder women dan lain sebagainya. Ada hal yang menarik dari cara Aries dalam memvisualkan karyanya, lihat misalnya dalam karya lukisan  yang menampilkan citra tentang mainan Bulldozer yang ia lukis dengan latar sebuah landscape padang rumput. Dalam karyanya itu Aries sedang menampilkan sebuah lapisan makna lukisan  realistik yang kompleks. Kompleksitas tersebut terasa saat kita diajak menyelami antara citra realistik padang rumput sebagai salinan dari realitas yang sesungguhnya, dengan citra realistik mainan sebagai salinan dari replika mobil bulldozer , replika mainan sudah merupakan copy dari realitas Buldozer yang sesungguhnya, namun oleh Aries copyan itu ia copy kembali dalam karyanya. Dalam karyanya itu juga akan terproduksi makna yang kompleks pula seputar natur yang direpresentasikan oleh objek padang rumput, serta persoalan cultur yang direpresentasikan oleh replika mobil bulldozer. Dalam lukisannya yang menampilkan replika tokoh tokoh super hero Aries juga sedang melakukan intertekstualitas melalui ekletisme dengan menambahkan kosa rupa tradisi seperti tampilnya motif awan yang tampak mengadopsi motif mega mendung, ataupun motif lidah api yang khas Bali yang oleh Aries dibuat dengan metoda stensilan, dengan visualisasi seperti itu karya Aries juga mencoba menghadirkan wacana tentang  etnisitas.
Wayan Sedanayasa, masih intens dengan penghadiran blow up dari lampu sepeda motor dalam setiap karya lukisnya. Metoda blow up yang ditempuh Sedanayasa dalam menghadirkan karyanya membuat tampilan karyanya semakin memiuh dari citra lampu sepeda motor menjadi citraan abstrak dengan persoalan pada efek reflektif bayangan yang terpantul di atas permukaan lampu sepeda motor. Denyaran cahaya yang terpantul diatas permukaan lampu sepeda motor tersebut menghasilkan efek visual yang mengarah ke visualisasi abstrak. Lukisan Sedanayasa yang dibuat dengan metoda melukis secara realistik  pada akhirnya justru semakin mengingkari realitas bentuk lampu sepeda motor karna yang Ia tonjolkan adalah efek refleksi dari cahaya yang ia lukis secara realistic. Inilah yang menjadi konsep utama kekaryaan sedanayasa yang menghadirkan seni lukis abstrak dengan jalan melingkar melalui teknik melukis secara realistik. Kuatnya tampilan visual terkadang akan membuat apresiator untuk larut dalam menyelami persoalan visual dalam karya sedanayasa dan mungkin akan sedikit lupa untuk memikirkan tentang persoalan kontekstual yang coba sedanayasa hadirkan lewat karyanya yakni seputar realitas sepeda motor di Bali yang telah menjadi sebuah penanda budaya.
Selain melukis tampaknya ketiga orang sahabat saya ini juga melakukan perluasan media melalui pengahdiran objek tiga dimensi ke ruang pameran. Langkah ini tentu patut diapresiasi karena mereka  mulai melakukan proses eksplorasi terhadap media. Mereka tak hanya puas telah menghasilkan karya dwimatra, mereka ingin menghadirkan karya trimatra untuk memperkuat subject mater yang mereka angkat dalam karya mereka masing-masing. Hal ini tentu menjanjikan sebuah tawaran dan suguhan visual yang lebih variatif bagi para apresiator. Demikinlah sepenggal pembacaan saya terhadap karya-karya yang dipresentasikan dalam pameran “orkestra” ini, dan apa yang terpapar dalam  esay kuratorial ini hanyalah sepenggal fragmen atas kekayaan teks  yang tersaji dan merangsang untuk  dimaknai  dari karya . karya yang tersaji dalam pameran ini.  Jikalau  apresiator yang datang dan menikmati pameran ini  menemukan nilai dan pemaknaan yang beragam dari  hasil pembacaanya sendiri  terhadap  karya-karya para sahabat kita ini, maka itu adalah hak sepenuhnya dari  para apresiator sebagai pembaca yang otonom.  Hasil pembacaan yang beragam dari para apresiator tentu akan memperkaya pembacaan terhadap karya-karya para sahabat kita ini. Selamat membaca, menafsir, dan menikmati persembahan orkestrasi visual dari kelompok “Telu(u)njuk”. Salam budaya 
Tulisan ini adalah esay kuratorial pameran kelompok telu[u]njuk yang berjudul “orkestra” di ten fine art sanur pada bulan mei 2011

“NGALIH MULIH”



“NGALIH MULIH”

Tentang “Garis Merah”; Tentang Pencarian Ideologi
Perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia termasuk Bali, dalam dua dekade terakhir ini kerap diramaikan dengan munculnya perupa-perupa muda yang menghimpun diri dalam kelompok-kelompok seni rupa. Sehingga tak mengherankan di Bali banyak bermunculan kelompok-kelompok perupa muda yang terus menerus secara konsisten meretas jalan eksistensi diri dan kelompok mereka masing-masing dengan strategi dan garis perjuangan masing-masing . Hal ini tentu sangat mengembirakan bagi publik seni rupa Bali sebab semakin banyak berdiri kelompok-kelompok perupa maka semakin ramai pula geliat kesenirupaan di Bali baik dari sisi proses kreatif maupun sisi pewacanaan.
Salah satu kelompok perupa muda yang siap meramaikan geliat seni rupa kontmporer Bali adalah kelompok “Garis Merah” sebuah kelompok yang terdiri dari lima orang perupa muda yakni Nyoman Pimen , Made Bijal, Made Anduk, Gus Boim, dan Gus Koh. Kelompok “Garis Merah” secara sadar berusaha menjadi berbeda dalam memandang arus trend seni rupa kontemporer Bali bahkan nasional yang menunjukkan gejala menguatnya suatu trend visual tertentu yang cenderung dianggap  menjadi mainstreme seni rupa kontemporer . Salah satu upaya mereka dalam merespon kondisi tersebut adalah dengan merumuskan  sisi ideologis kelompok. “Garis Merah” meyakini bahwa untuk dapat menjadi berbeda dengan arus besar seni rupa kontemporer Bali, maka sisi ideologis kelompok harus dirumuskan, lalu ditegaskan dan diproklamirkan kehadapan publik seni rupa Bali, melalui sebuah event pameran.
Dalam upaya merumuskan dan mempertegas ideologi kelompok  tersebut, maka “Garis Merah” meyakini bahwa kita perlu menengok kembali akar budaya kita, yakni budaya  Bali, budaya  dalam pengertian ini bisa bermakna ganda baik dari sisi teks (kosa rupa) maupun konteks (nilai, wacana dll) . “Garis Merah” meyakini bahwa budaya Bali sangatlah kaya baik dari sisi estetis, maupun sisi filosofisnya. Maka “Garis Merah” secara tegas merumuskan garis ideologis mereka untuk berusaha menggali dan mengeksplorasi sisi etnisitas Bali, sebagai jawaban konseptual untuk bisa survive atau bertahan dalam pertarungan gagasan dan wacana seni rupa kontemporer dunia. Dalam kondisi era keterbukaan dan zona kebebasan ini “Garis Merah” tetap meyakini bahwa karakteristik dan ciri khas (orisinalitas )  masih memiliki nilai tawar yang strategis, di tengah era hipercitra dan hipertanda ini. Dan pilihan itu akhirnya jatuh pada satu entri point yakni budaya Bali, tentu saja dalam kemasan kontemporer  untuk membahasakan wacana dan isu  kekinian.
Salah satu momen untuk mempertegas dan  mengkomunikasikan gagasan ideologis kelompok “Garis Merah”  adalah dengan merancang sebuah event pameran seni rupa yang diberi judul      “ Ngalih Mulih”  pemilihan judul dengan memakai kata dari bahasa ibu, yaitu bahasa bali adalah sebentuk pernyataan sikap dari kelompok “Garis Merah” untuk bermain di wilayah etnisitas  Bali. Secara kebahasaan, kata “Ngalih Mulih” berarti “mencari sesuatu sesuatu yang tertinggal dalam rumah sendiri”  biasanya seorang yang keluar rumah akan kembali lagi ke dalam rumah jika merasa ada sesuatu yang tertinggal di rumah, arti kata tesebut yang kemudian dimaknai oleh kelompok “Garis Merah” sebagai upaya melihat kembali sang diri (budaya Bali) untuk diolah dan dielaborasikan menjadi bahasa personal yang khas dan berkarakter yang akan digunakan sebagai “senjata” estetis untuk mengeksekusi gagasan-gagasan dan isu-isu global dan kekinian yang sedang terjadi baik itu di Bali, Indonesia, bahkan Dunia. “ Garis Merah” menegaskan bahwa untuk bicara global kita jangan minder dan segan memakai bahasa lokal, bukankah kekuatan lokalitas sangat diperhitungkan dalam pandangan postmodernisme, sebagai “indegeneous art”.
Tentang karya; Tentang Kegelisahan dan Pernyataan diri.
Karya-karya yang ditampilkan para anggota garis merah menunjukkan suatu upaya mereka untuk melihat kembali potensi yang ada di ruang lingkup budaya sendiri. Sebagai seniman akademis, jebolan perguruan tinggi seni, yang sudah barang tentu secara terorganisir oleh kurikulum “disuguhi” esteika ala akademisme barat, disatu sisi telah menggugah kesadaran mereka  bahwa sudah terlampau lama mereka telah meninggalkan “rumah budaya” sendiri, dalam hal ini Bali. Mereka kemudian menganggap masih banyak yang tertinggal di rumah sendiri, dan musti dicari, lalu apa yang mereka temukan?
Sebagian dari mereka menemukan nilai estetis pada warisan kosa rupa, yang tak pernah akan jadi artefak beku, sebab kosa rupa bali terus bergerak dalam regenerasi yang dinamis. Sebagian dari mereka tertarik, lalu mengambilnya, diolah kembali lalu lahirlah tampilan -  tampilan estetis yang khas , tapi tetap tak kehilangan nilai budaya lokal. Sedangkan sebagian lagi menemukan spirit, serta narasi tematis dari sebuah rumah kebudayaan bernama bali.






Nyoman pimen, menghadirkan hasil eksplorasi estetisnya selama ini tentang garis. Garis-garis tegasnya yang sebagian besar didominasi oleh garis-garis lengkungnya  membentuk figur-figur yang tampak khas. Figure-figur tersebut tampak primitif, naïf, sekaligus magis, sesekali pada saat ia melukiskan gambar wajah, maka cara kepelukisannya segera menyeret ingatan kita pada cili, ataupun pada wayang. Yang menarik pula pada proses kreatifnya, secara sadar jika ada bagian dari karya yang menurutnya  salah, ia tidak berupaya untuk menghapus ataupun menutupnya dengan sapuan warna,ia biarkan saja goresan-goresan yang dianggapnya “salah” tersebut secara apa adanya, dan justru menjadi bagian dari estetika visual pada setiap karyanya. Secara sadar ia mengunggkapkan bahwa proses kreatifnya tersebut adalah upaya dirinya dalam menghayati proses kejujuran dalam berkarya, baginya kesalahan adalah kejujuran, dengan memberikan ruang pada kesalahan di setiap karya-karyanya ia ingin menunjukkan bahwa tak ada yang perlu ditutupi dari sebuah proses mencipta karya seni, karya seni baginya terlampau egois jika hanya memulas diri dalam bedak keindahan semata, sebab untuk menghasilkan keindahan kita pasti melalui proses ketidak indahan, salah satunya  kesalahan dalam menggores , dan hal tersebut  bagi pimen tak perlu dihapus tapi ditampilkan saja apa adanya. Secara kontekstual karya-karya pimen banyak berbicara pada persoalan sosial dan perubahan gaya hidup masyarakat bali, perubahan gaya hidup dari cara berpakaian hingga cara pandang seputar nilai-nilai dalam kemasyarakatan , misalnya dalm karya yang berjudul samar, pimen mencoba merekam realitas perubahan gaya hidup sebagian kalangn muda, dalam hal fashion misalnya banyak anak muda di bali yang mengecat rambut mereka dengan aneka warna warni, layaknya rambut samar, atau mahkluk gaib dalam keyakinan orang bali, karya ini menyajikan narasi yang parodik tetapi dengan tampilan visual yang tampak getir . Pimen juga menampilkan karya lukis di atas media kain lap, sebuah benda keseharian yakni kain lap disentuh oleh pimen dengan tampilan visual hingga “derajat” kain lap tersebut “naik” dari benda yang remeh temeh menjadi karya seni, disini pimen seperti hendak berbicara bahwa nilai suatu karya tidak diukur dari media, tapi dari konten estetik yang dihadirkan sebuah karya.
Made bijal, menghadirkan sebuah karya objek yang disusun sedemikian rupa menjadi rangkaian karya instalasi. Dalam karya yang berjudul “ Alamku” Bijal menghadirkan beberapa buah objek berupa kulit kakao atau kopi coklat yang disentuh dengan lukisan-lukisan dekoratif yang menjadikan pohon sebagai subject matter. Ikon-ikon pohon pada karya bijal tampak sangat kental kosa rupa tradisinya, cara bijal menghadirkan ikon-ikon pohon, sarat dengan nuansa deformasi ataupun stilirisasi yang sangat kentara jejak-jejak tradisinya. Tak mengerankan memang karna Bijal terlahir di lingkungan pelukis tradisi di daerah batuan, sehingga karya-karyanya tak terlepas dari corak tradisi. Dalam karya yang berjudul alamku bijal menghadirkan sebuah nilai perenungan tentang kondisi alam yang terperosok pada eksploitasi secara berlebihan oleh manusia. Hal ini diperkuat dengan media kulit kakau yang ia pakai akan segera menyeret ingatan kita pada sebuah ungkapan klasik “ habis manis sepah dibuang” alam kini layaknya kulit kakau , diambil isinya, tapi kulitnya menjadi sampah. Kulit kakau menurut bijal adalah simbol bumi ataupun alam itu sendiri. Pesan pada karya bijal juga diperkuat dengan penambahan kayu uyung atau kayu sagu yang sudah lapuk sebagai penyannga karyanya, kayu rapuh segera menyeret penafsiran kita pada kondisi alam yang rapuh. Secara umum karya bijal menunjukkan ekspresi seni kontemporer melalui bahasa instalasi ataupun  objek tetapi tetap mengahdirkan cita rasa dan konten tradisi didalamnya.
 rban"de Bijal "uh, Palinga; "lan september an kelompok Garis Merah, yang berjudul "
Ida Bagus Radnyana (Gus Boim) menghadirkan karya dua dimensional dan tiga dimensional. Dalam karya dua dimensionalnya Gus Boim menghadirkan sebuah karya lukis yang menghadirkan garis sebagai komponen utamanya, sehingga karya Gus Boim juga dapat dimasukkan ke wilayah drawing. Lihat misalnya dalam karya yang berjudul “kaki-kaki” yang dalam bahasa bali berarti kakek-kakek. Dalam karya tersebut gus boim menghadirkan nilai tradisi secara kontekstual, artinya tradisi tidak hadir secara tekstual dalam karyanya tapi secara kontekstual melalui nilai dan narasi tradisi terutama di wilayah ritual keagaman. Dalam karyanya tersebut gus boim mengaku terinspirasi dari perayaan tumpek bubuh yang oleh masyarakat bali dirayakan sebagai hari untuk menghormati pohon ataupun tumbuh-tumbuhan. Dalam  pandangan masyarakat bali, pohon adalah organisme yang pertama diciptakan tuhan, disusul oleh binatang, dan barulah manusia. Sehingga manusia adalah organisme generasi ketiga di bawah pohon, maka oleh masyarakat bali pohon dihormati sebagai “kaki” (kakek), kearifan lokal yang telah diwariskan ini sesungguhnya adalah modal kultural untuk melestarikan alam. Selain karya dua dimensional, gus boim menghadirkan karya tiga dimensional berupa objek batu bata yang dirakit sedemikian rupa hingga terlihat seperti sebuah kendaraan beroda, dengan lidah api di keempat sisi rodanya. Karya ini diberi judul “panas pembangunan” sebuah kritikan terhadap pesatnya pembangunan di Bali khususnya yang kerap mengorbankan lahan produktif. Nilai tradisi pada karya gus boim ini hadir secara tekstual melalui hadirnya ikon-ikon berupa lidah api yang kental nuansa tradisinya.
Made Sugiada (Anduk) menghadirkan karya berupa tiga dimensional berupa patung kop  anak-anak. Patung tersebut dihadirkan secara repetitive dan di display secara instalatif pada sebuah kotak dari kayu. “Antara Kebahagiaan dan Kesedihan” begtulah Anduk memberi judul pada karya tiga dimensionalnya ini. Patung ini tampak ekspresif karna dibuat dengan media tanah liat yang digarap dengan teknik pitching sehingga menisakan jejak-jejak dari pijitan tangan yang ekspresif. Mimik dari patung ini menyiratkan suatu ekspresi kesedihan dan kebahagiaan. Patung ini didisplay dengan pendekatan instalatif yakni ditaruh di dalam tumpukan kotak kotak kayu yng ditata sedemikian rupa. Secara kontekstual karya Anduk ini menghadirkan konten berupa nilai kearifan lokal orang bali yakni rwa bineda, sebuah kearifan dalam memandang suatu oposisi biner, tentang realitas baik buruk, hitam putih, susah senang dan lain sebagainya. Anduk mengemas nilai kearifan lokal tersebut dalam tampilan karya yang secara kasat mata sulit dilacak jejak lokalitasnya, sekali lagi Anduk menghadirkan konten lokalitas tersebut pada nilai kontekstual karyanya bukan pada sisi tekstualnya. Jejak lokalitas itu ada di dalam horizon harapan sang kreator dalam hal ini Anduk sendiri,  ketika berwujud karya dan berhadapan dengan apresiator maka pendekatan multi tafsirlah yang akan berkecambah di horizon harapan masing-masing apresiator tersebut.
Narasi tentang rwa bineda tersebut juga Nampak pada karya-karya lukisan Gus Koh. Karya-karya Gus Koh yang digarap secara realistic ini juga tampak menghadirkan narasi seputar rwa bineda. Konten tersebut diaplikasikan Gus Koh melalui pendekatan tekstual. Ia menggarap semua karyanya dengan warna monokroom yakni hitam dan putih, sebagai mana yang lazim di Bali, makna rwa bineda kerap ditubuhkan secara simbolik dengan warna hitam dan putih. Konten trades dalam karya Gus Koh juga tampak dalam ikon-ikon budaya Bali seperti tapel (topeng). Secara simbolik topeng adalah penutup wajah, yng kerap menyeret pemaknaan kita pada kepalsuan. Dalam karyanya tersebut Gus Koh mengungkapkan pada penulis, bahwa yang ingin ia sampaikan dalam karya-karyanya adalah tentang pergeseran nilai budaya pada masyarakat Bali kini. Lihat misalnya dalam karya yang berjudul dualisme#1 Gus Koh menghadirkan seraut  wajah  badut di balik topeng dalem yang terlepas. Hal ini menurut Gus Koh adalah simbol atas semakin berjaraknya genersi kini dengan nilai lokalitasnya. Gus Koh melalui karya hitam putihnya seolah hendak bercerita tentang perbedaan dan keberjarakan dualitas waktu dan budaya, antara masa kini dan masa lalu.
Demikinlah sekelumit pembacaan saya terhadap karya-karya yang ditampilkan oleh para sahabat yang tergabung di Garis Merah dalam pameran “Ngalih Mulih” hari ini. Sebagai sebuah bingkai kuratorial tulisan ini tentu diniatkan sebagai sebuah diskripsi dari horizon harapan para creator dalam menghasilkan karya mereka untuk dikomunikasikan dengan para apresiatornya. Dan tulisan ini saya niatkan pula sebagai sebuah bingkai dari gagasan kreatif para kreator dalam karya mereka. Dan pameran “Ngalih Mulih” ini semoga dapat mengajak kita untuk kembali melihat apa yang kita miliki di rumah kita, rumah kebudayaan Bali. Selamat mengapresiasi. Salam budaya.
Tulisan ini adalah esay kuratorial dari pameran kelompok Garis Merah, yang berjudul “Ngalih Mulih” di Ten Fine Art Sanur, pada bulan September 2011

MENGEMAS LOKALITAS



MENGEMAS LOKALITAS
Pada awal kelahirannya seni rupa kontemporer menyerap banyak gagasan ataupun pandangan dari postmodernisme, yang merupakan bentuk perlawanan frontal terhadap modernisme yang telah mengakar kuat dalam peradaban masyarakat dunia terutama di barat. Modernisme menyangkut berbagai aspek kehidupan salah satunya dalam bidang seni rupa. Salah satu prinsip seni rupa  modernisme  yang “dihajar” oleh pandangan  postmodernisme adalah adanya prinsip atau konsep universalisme . Prinsip universalisme dalam karya seni rupa modern tak pelak menjadikan wajah seni rupa dunia tampak seragam layaknya seni rupa barat, karena seni rupa barat melalui prinsip avan garde dan isme-ismenya begitu jumawa mengakui dirinya sebagai bentuk seni yang universal, sementara bentuk-bentuk kesenirupaan di wilayah-wilayah dunia ketiga termasuk Indonesia, dikatagorisasikan sebagai seni primitif, bahkan kerap dipandang sebagai benda benda arkeologis, bukan karya seni.
Postmodernisme “melawan” universalisme dengan semangat pluralisme, termasuk dalam ranah kesenirupaan. Pluralisme dalam seni rupa kontemporer ditandai dengan kebangkitan seni rupa tradisi, seni rupa lokal, seni indigenous.  Dalam era ini masing-masing perupa memliki potensi yang besar untuk menghadirkan nuansa etnisitas masing-masing pada karya mereka. Maka wacana seni rupa dunia (world art) yang dulunya hanya terpusat di eropa dan amerika mulai mencair, Negara-negara di belahan dunia ketiga seperti asia, afrika, dan amerika latin mulai dilirik dalam wacana seni rupa global (global art).  Perbedaan istilah world art dan global art disini, mengacu pada pemahaman yang diajukan Hans Belting. Seni rupa dunia (world art) menurutnya lebih mengacu pada pemahaman-pemahaman modernisme yang hegemonik dan memperlihatkan nafas-nafas kolonial. Sedangkan seni rupa global (global art) adalah seni rupa kontemporer  yang meluas ke seluruh dunia dalam pekembangan sekarang. Globalisasi menurut Hans Belting justru merupakan anti tesis dari universalisme.
Kembali pada persoalan menguatnya wacana etnisitas dalam wacana seni rupa kontemporer ataupun seni rupa global, sesunguhnya merupakan momentum yang tepat bagi tampilnya dunia ketiga (di luar amerika-eropa) untuk tampil dalam panggung wacana seni rupa global, termasuk indonesia dan tentu saja Bali sebagai bagian dari geokultural Indonesia. Dalam konteks seni rupa Bali, potensi itu sangat melimpah adanya, karena kita memiliki modal warisan sejarah dan kosa rupa yang melimpah. Warisan kosa rupa tradisi tersebut masih hidup dan berkembang dalam kehidupan sosial msyarakat bali hingga kini karna didalamnya terdapat sistem regenerasi yang dinamis.
Berdasarkan pada gejala dan beberapa fenomena di atas maka dua orang perupa muda yakni Kadek Darmanegara dan Wayan Juni Antara, menghadirkan pencapaian kreatif mereka dalam sebuah pameran yang berjudul “mengemas lokalitas”. Kedua perupa muda ini berasal  dari Gianyar, dan jebolan Jurusan Pendidikan Seni Rupa, Undiksha Singaraja.  Pertemuan dan kesepakatan kedua perupa ini untuk berpameran bersama dilatar belakangi oleh adanya kesamaan konsep berkarya keduanya yakni sama-sama mengangkat wacana ataupun isu tentang konten etnisitas dalam karya mereka, tentu saja dengan tetap berlatar pada pengembangan eksplorasi  dan gagasan visual masing-masing.

Kadek Darmanegara, menampilkan karya yang menunjukkan eksplorasi yang kuat  dalam wilayah formalistik, namun bukan berarti karya darma tidak memiliki muatan kontekstual di dalamnya. Ia secara bebas bermain dengan aneka efek visual semisal cipratan, torehan, lelehan, kerokan, terkadang stensilan sebagai background dari hadirnya ikon-ikon berbentuk menyerupai batang pohon yang di sekujur permukaannya digarap dengan pendekatan tradisional yang detail, ornamen-ornamen yang repetitive itu, dihadirkan dengan teknik sigar mangsi yang tertib. Ada kontradiksi-kontradiksi emosi yang sengaja darma hadirkan dalam karya-karyanya, lihat misalnya keliaran latar belakang yang mengacu pada abstrak ekspresionisme “berselingkuh” dengan tertibnya ornamen dan sigar mangsi yang menjadi center of intrest karya ini, sungguh sebuah “kemesraan” emosional yang ekletik. Secara kontekstual Darma banyak berbicara tentang alam dan lingkungan, hal ni dilihat dari simbol-simbol yang ia angkat seperti pohon, dan binatang. Darma hendak berbicara tentang kondisi alam kita yang semakin hari semakin terjebak dalam kondisi disharmoni akibat ulah manusia sendiri.


Sedangkan Wayan Juni Antara, menghadirkan gagasan seputar eksistensi budaya bali di tengah pengaruh budaya luar. Juni menghadirkan wayang kamasan yang tersusun di dalam fragmen-fragmen bidang persegi yang disusun sedemikian rupa membentuk komposisi bidang-bidang, sementara di sela jelimetan bidang-biadang persegi bergambar wayang kamasan tersebut hadir sosok naruto, salah satu tokoh manga jepang yang digandrungi anak-anak Indonesia. Sosok naruto tersebut terlihat superior diantara wayang kamasan yang ia lukis dengan ukuran yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya hegemoni budaya luar dalam hal ini jepang terhadap budaya kita. Disamping itu pada beberapa karyanya yang lain Juni Antara juga menghadirkan tubuh-tubuh perempuan yang digarap secara realistic, horizon harapan yang terbentang dari penghadiran tubuh-tubuh perempuan dalam karya Juni Antara adalah seputar potret budaya hari ini, sebuah budaya popular yang mengagungkan sensasi dan pencitraan layaknya tubuh perempuan yang kerap menjadi komoditi sebagai buah dari  kontruksi budaya pencitran ataupun budaya iklan. Karya juni ini di lain sisi juga dapat merepresentasikan bagaimana arah pengembangan kebudayaan kita, apakah pemerintah dalam hal ini departemen kebudayaan memiliki konsep tentang politik kebudayaan yang jelas? Sungguh sebuah pertanyaan yang terdengar sumbang di sela-sela gemuruhnya pengembangan kebudayaan nasional yang hanya bersifat turistik semata. Karya juni seolah hendak menggedor-gedor nurani kita sebagai bangsa yang katanya kaya akan khasanah budaya ini, tapi tidak percaya diri untuk menjadikannya “senjata” dalam percaturan global.
Demikianlah sekelumit gagasan yang melatar belakangi pameran kedua orang perupa muda ini. Untuk pembacaan masing-masing perupa secara detail akan penulis paparkan dalam catatan kuratorial pada pelaksanaan pameran ini nantinya. Adapun pameran ini penulis bingkai dengan judul “Mengemas  Lokalitas” yang kurang lebih merefleksikan gagasan dan konsep kedua orang perupa muda ini dalam upaya keduanya menghadirkan lokalitas dalam kemasan pribadi masing-masing perupa muda ini. Pameran ini juga  adalah sebuah upaya dari para perupa muda ini untuk secar konsisten menjalain jejaring dan mengakrabkan diri dalam medan sosial seni rupa yang sesungguhnya, guna meraih eksistensi dalam peta seni rupa kontemporer di Bali.
Tulisan ini adalah esay kuratorial, pameran “Mengemas Lokalitas” Kadek Darmanegara vs I Wayan Juni Antara, di GK Art Space, Kesiman Denpasar

MEMPERTIMBANGKAN KONTEN LOKALITAS DALAM KOMIK INDONESIA



MEMPERTIMBANGKAN KONTEN LOKALITAS DALAM KOMIK INDONESIA


Istilah komik  diadopsi dari istilah dalam bahasa ingris yakni, comics. Istilah komik merujuk pada perwujudan dari sastra gambar. Kata komik berasal dari bahas perancis, yakni comique, yang berasal dari kata sifat yang berarti lucu atau menggelikan dan sebagai kata benda artinya pelawak atau badut. Pengertian ini mengacu pada apa  yang berkembang di masa lampau, dimana cerita bergambar atau komik umumnya mengacu pada cerita – cerita humoris atau satiris untuk menghibur khalayak. Sedangkan Scott Mc Cloud memberi pengertian bahwa komik merupakan gambar-gambar serta lambing-lambang  yang  terjuktaposisi dalam urutan tertentu, untuk menyampaikan informasi dan mencapai tanggapan estetis dari pembacanya1.
Di dunia barat komik modern mulai dikenal di swedia  pada tahun 1833, adalah seorang kepala sekolah  bernama Rudolphe Topffer membuat rangkaian gambar-gambar bercerita yang kemudian “diyakini “ sebagai cikal bakal dari komik. Komik juga  mulai berkembang  di ingris pada tahun 1867  ditandai dengan dimuatnya serial Ally Sloper di Koran Judy. Sedangkan di negeri pamansam Amerika komik pertama kali muncul pada akhir abad ke 19, ditandai dengan kemunculan sebuah serial kartun politik, yang bernama yellow kid, hasil ciptaan dari W.F. Outcault2. Sederet nama dan tahun tersebut adalah sederet nostalgia historis yang tercatat dalam sejarah komik barat yang “diyakini” sebagai tongak-tongak perkembangan seni komik modern.
Bagaimana kemudian dengan sejarah perkembangan komik di belahan dunia timur., termasuk Indonesia? Jika menagcu pada konteks penciptaan bentuk-bentuk  komik modern seperti dalam persepsi barat, kita mungkin akan dianggap lebih belakang ngomik dibandingkan dengan orang barat. Namun dalam bentuk-bentuk karya seni rupa tradisional yang berkembang di nusantara sejak berabad abad lampau, kita sebenarnya memiliki warisan karya seni rupa yang  secara karakteristik visual, menampakkan unsur naratif, dan berwujud sekuen gambar dengan kombinasi tulisan layaknya komik, atau tidak berlebihan jika bentuk-bentuk karya rupa tradisional tersebut sebagai cikal bakal komik di Indonesia.
Dimulai dengan bentuk – bentuk peninggalan karya seni rupa nusantara. Lihat misalnya relief Borobudur, seni ukir yang tertera pada bagian kaki candi tepatnya pada bagian kama datu dan arupa datu memperlihatkan pencapaian bangsa Indonesia pada masa itu tentang seni relif yang menampakkan visualisasi dengan karakter visual yang cenderung realistik dan volumetrik. Walaupun tanpa tulisan, relief Borobudur dapat dikatagorisasikan sebagai bentuk seni komik, karena di dalamnya terdapat unsur seni komik, yakni unsur naratif serta unsur sequential. Unsur sequen yang dimagsud karena relief ini bertutur tentang kehidupan sidarta gautama secara runut dari sejak lahir hingga dewasa dan memperoleh pencerahan sebagai sang budha. Disamping menunjukkan sisi kehidupan sang budha, relief ini cukup memberi informasi tentang bagaimana kehidupan masyarakat nusantara pada masa itu, karena relief tersebut juga menghadirkan pahatan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat secara detail.
Dari tanah Dewata, Bali terdapat pula peninggalan berupa seni relief di dinding-dinding tebing sungai pakerisan dan petanu. Salah satunya adalah relief yeh pulu yang terdapat di Bedulu Gianyar. Secara historis keberadaan relief ini masih menjadi misteri di kalangan peneliti dan arkeolog, relief ini belum diketahui pasti berasal dari periode sejarah bali yang mana, karena tidak ada tertera angka tahun yang tertera pada relief ini. Namun secara visual relief ini tampak naratif dan bercerita tentang kehidupan masyarakat Bali kuno, sebelum invasi majapahit ke Bali. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti tentang cerita yang dipahatkan pada relief dipermukaan tebing sungai petanu tersebut, namun dari sisi visual relief yeh pulu juga dapat dikatakan sebagai cikal bakal seni gambar naratif Bali khususnya.
Selain dalam bentuk peninggalan karya seni rupa yang bersifat arkeologis historis, cikal bakal seni komik ataupun seni gambar naratif di Indonesia dapat dilacak dari warisan bentuk-bentuk karya seni rupa tradisional  yang masih dapat kita jumpai pada massa kini.Di jawa dikenal sebuah bentuk pertunjukkan wayang yang memakai media lembaran-lembaran gambar sequen atau fragmen-fragmen adegan cerita pewayangan, sang dalang hadir sebagai sang penutur yang mempresentasikan gambar-gambar tersebut pada kerumunan penonton yang mengerumuni pertunjukkan tersebut, bentuk pementasan wayang seperti ini dikenal oleh masyarakat jawa sebagai seni wayang beber. Kata beber mungkin mengacu pada pemakaian lembaran-lembaran gambar pada kain kanvas yang dibeber atau dibentangkan oleh sang dalang  di hadapan penontonnya. Pelukisan wayang beber yang menghadirkan fragmen-fragmen dari adegan dalam cerita pewayangan memperlihatkan tanda-tanda sebagai seni gambar yang sangat naratif sehingga wayang beber juga adalah bentuk seni komik khas masyarakat jawa dan sekitarnya.
Bentuk karya seni rupa tradisional lainnya yang secara kasat mata menunjukkan karakteristik komik, berasal dari pulau Bali, bentuk karya seni rupa tradisional tersebut dikenal dengan istilah seni prasi. Seni prasi adalah sebuah bentuk karya seni rupa tradisional bali, yang memperlihatkan  kombinasi antara rangkaian gambar-gambar dan tulisan-tulisan aksara bali.  Seni prasi dibuat dengan teknik cukilan  dan  memakai pisau khusus yang dikenal sebagai  pengrupak yang berfungsi untuk mencukil atau menorehkan gambar dan tulisan pada permukaan daun pohon tal atau yang lebih dengan rontal. Kombinasi antara pemakaian bahasa gambar dan bahasa tulisan dalam karya prasi membuat tampilan prasi lebih mirip cerita bergambar atau cergam, sebuah istilah dalam bahasa Indonesia yang juga dapat dipadankan dengan istilah komik.Komposisi antara gambar dan tulisan pada prasi  terlihat berimbang sehingga terlihat tidak saling mendominasi, antara teks tulisan berupa aksara dengan teks visual berupa gambar, keduanya hadir saling menguatkan, tanpa ada niatan untuk menjadi lebih superior satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa prasi adalah kesatuan yang utuh antara gambar dan tulisan layaknya sebuah komik. Cerita-cerita yang diangkat dalam sebuah prasi umumnya adalah cerita pewayangan (Ramayana Mahabarata ), cerita panji (malat), vabel (tantri) serta astrologi – astronomi (pelelintangan). Sampai sekarang proses pewarisan dan regenerasi dari seni prasi berjalan sangat dinamis, melalui sistem transformasi ala cantrikisme dan pewarisan. Seni prasi banyak berkembang di wilayah timur pulau bali yakni sidemen, tenganan (karangasem dan sekitarnya) serta di wilayah bali utara, tepatnya di desa bungkulan (singaraja), serta wilayah lainnya di bali.
Bentuk-bentuk warisan  karya seni rupa tradisional yang kita miliki seperti yang tertera diatas, menunjukkan betapa melimpahnya potensi konten loklitas   yang kita miliki terutama dalam bidang seni komik, kemelimpahan konten  tersebut bukan saja berhenti sebagai artefak yang membeku, namun telah menjadi sosiofak yang terus diregenerasikan dan dilakoni oleh masyarakat komunal pendukungnya, sebut saja denagn seni wayang beber di jawa ataupun seni prasi di bali, bentuk-bentuk kesenian itu sampai tulisan ini dibuat masih tetap ada mengisi ruang-ruang rutinitas masyarakat pendukungnya, menjelma menjadi dialek sosial, menjadi ekspresi  komunal. Kemelimpahan konten lokalitas  ini adalah potensi yang dapat dieksplorasi lebih jauh dalam proses penciptaan komik Indonesia yang berkarakter Indonesia. Walaupun dalam diskursus sosial kultural kita kerap menemukan perdebatan dalam memaknai identitas  keindonesiaan dalam aspek-aspek kehidupan sosial budaya termasuk dalam dunia seni rupa, namun kehadiran konten  lokalitas dalam komik Indonesia setidaknya mampu menjadi  salah satu “rute” yang dapat ditempuh untuk memberikan label yang khas pada komik Indonesia, layaknya jepang yang  mampu menghadirkan manga sebagai duta politik kebudayaan mereka.
Upaya – upaya pengahadiran konten lokalitas baik berupa nilai, narasi, serta kosa rupa tradisi dalam komik kita sebenarnya sudah dimualai oleh para komikus-komikus senior Indonesia, dalam hal pengahadiran konten lokalitas dalam karya komik, maka  komikus senior Indonesia R. A .Kosasih boleh jadi salah satu ikon komikus Indonesia yang getol menghadirkan konten lokalits , berupa serial Mahabarata dan Ramayana yang menjadi masterpiece-nya, atupun komik-komik cerita rakyatnya yang lain. Kosasih sukses mengeksplorasi lokalitas, dari narasi atupun dari sisi kosa rupa. Dari sisi kosa rupa misalnya, kosasih melakukan perluasan ekspresi wimba wayang dalam setiap karya-karyanya. Wimba wayang dalam karya-karya kosasih dieksplorasi secara kreatif dan dikemas dengan teknik menggambar ala seni rupa modern, seperti penambahan unsur anatomi yang proprsional dan mengarah kepada gambar realistik, namun tetap berkarakter Indonesia, misalnya dari karakteristik busana ataupun raut wajah dari tokoh-tokoh yang digambarnya sangat indonesia.
Apa yang dilakuakn Kosasih ataupun komikus senior yang lain, dalam menggali potensi dan kemelimpahan konten lokalitas   tersebut dapat memberi inspirasi bagi komikus-komikus muda yang kini tumbuh di Indonesia umumnya dan di Bali khususnya. Kemelimpahan kosa tradisi tersebut adalah potensi yang strategis dalam era kini. Era dimana kanon seni rupa dunia tidak lagi terpusat di eropa dan amerika, dan telah bergeser ke asia ataupun ke belahan dunia yang lain, maka wacana tentang etnisitas kembali mendapatkan posisi yang strategis dalam pertarungan wacana seni rupa. Maka dalam era ini sudah bukan jamannya lagi kita terlena dan menyimpan warisan budaya lokal  kita dalam gudang penyimpanannya yang usang, dalam sebuah sangkar emas budaya adiluhung, yang merupakan wariasan stigma  orientalisme ala kolonial, yang terbukti hanya menjebak kemelimpahan teks budaya lokal  kita, hanya berhenti sebatas membangun citra turisme semata. Sudah waktunya konten lokalitas kita hadir dalam kemasan yang lebih segar, lebih gurih, lebih seksi,  dan mewakili semangat jamannya namun tak kehilangan akar dan cita rasa indonesia, sudah waktunya kekayaan budaya lokal yang  kita miliki tampil sebagai “duta-duta” dan “diplomat-diplomat” dalam politik kebudayaan bangsa ini, yang tak pernah terumuskan dengan jelas mau kemana arahnya .
 Even pameran yang bertajuk  “Komik Dalam Laci” yang digagas oleh rumah komik 22 mungkin hanyalah salah satu langkah kecil dari cita- cita besar, membangkitkan kembali dunia komik Indonesia, dan mengembalikan komik Indonesia agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tak mudah memang di tengah era ledakan gambar seperti sekarang ini, ditambah lagi dengan gemuruhnya gempuran komik-komik impor terutama manga dari jepang, yang terbukti mampu menghegemoni selera para penikmat komik Indonesia dari kanak-kanak hingga dewasa, kondisi ini seharusnya mampu melecut dan membangunkan komik Indonesia untuk tampil merebut panggung apresiasi masyarakatnya sendiri. Dan apa yang kami lakukan di rumah komik 22 hanyalah sebuah langkah kecil, tapi kami percaya bahwa setiap pergerakan selalu dimulai dari sebuah langkah kecil. Semoga rumah komik 22 mampu menjadi sebauah ruang kebudayaan alternatif dengan visi sebagai wahana counter culture, di tengah hingar bingarnya arus budaya kontemporer saat ini. Semoga.
Tulisan untuk katalogus “Komik Dalam Laci” Rumah Komik 22 Bedulu

Tentang Suara Rupa

Suara Rupa adalah sebuah "panggung" sederhana yang berusaha menyajikan gagasan dan cara pandang tentang kebudayaan khususnya dunia seni rupa dalam perspektif praktik, wacana, ataupun pendidikan dan pengajarannya

tentang penulis

suara rupa
I Made Susanta Dwitanaya, lahir di tampaksiring gianyar bali, pada 22 juli 1987. menempuh pendidikan kesenirupaan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Undiksha Singaraja (2005-2010. Berminat pada dunia kepenulisan sejak masih kuliah
Lihat profil lengkapku
Diberdayakan oleh Blogger.